Di bawah bayang-bayang megah Gunung Rinjani, tepatnya di Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara, sebuah gerakan sunyi sedang berlangsung. Gerakan ini tidak melibatkan senjata atau teriakan protes, melainkan melibatkan lembaran-lembaran kertas, rak kayu sederhana, dan semangat pantang menyerah dari seorang pria bernama Asuddin. Melalui tangannya, literasi bukan lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan sebuah jembatan menuju martabat dan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak desa.
Desa Bayan dikenal sebagai pusat kebudayaan. "Wettu Telu" adalah kata yang mengenalkan Bayan ke dunia, kental dengan tradisi dan sejarah. Namun, di balik kekayaan budaya tersebut, Asuddin melihat sebuah celah yang menganga: akses terhadap informasi dan buku yang sangat terbatas. Bagi anak-anak di pelosok Lombok Utara, buku cerita atau ensiklopedia seringkali menjadi barang mewah yang sulit dijangkau.
Kegelisahan Asuddin bermula dari pengamatannya terhadap anak-anak di lingkungannya yang menghabiskan waktu setelah pulang sekolah. Minimnya bahan bacaan membuat minat baca rendah, yang pada akhirnya berdampak pada daya kritis dan wawasan mereka. Baginya, pendidikan formal di sekolah saja tidak cukup jika tidak didukung oleh ekosistem literasi yang kuat di rumah dan lingkungan sosial.
Berdirinya Pojok Baca: Melawan Keterbatasan
Tanpa modal besar, Asuddin mulai mengumpulkan buku sumbangan relawan. Ia percaya pada filosofi bahwa "satu buku yang dibaca anak-anak hari ini adalah satu jendela yang terbuka untuk melihat dunia esok hari." Dengan modal semangat, ia mendirikan sebuah ruang baca sederhana yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sekitar.
Langkah awalnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tantangan utama yang ia hadapi bukanlah soal teknis, melainkan stigma. Beberapa orang tua awalnya menganggap aktivitas membaca hanya membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk membantu di ladang atau mencari pakan ternak. Namun, Asuddin mendekati masyarakat dengan cara yang santun, menyelipkan pesan-pesan pentingnya ilmu pengetahuan di sela-sela obrolan santai di berugak (pondok tradisional Sasak).
Strategi "Menjemput Bola"
Asuddin sadar bahwa ia tidak bisa hanya menunggu anak-anak datang. Ia seringkali melakukan aksi "menjemput bola". Dengan membawa box berisi buku, ia mendatangi titik-titik kumpul anak-anak. Strategi ini terbukti efektif. Rasa penasaran anak-anak terhadap gambar-gambar berwarna di dalam buku perlahan berubah menjadi kegemaran membaca. Dia juga mendatangi rumah-rumah di pelosok. Mengeluarkan buku, menyebarnya di berugak. Anak-anak yang awalnya penasaran, mendekat, lalu membaca buku. Pada hari-hari berikutnya mereka sudah tahu jadwal kedatangan Asuddin.
Literasi yang Membumi dan Berbasis Budaya
Salah satu keunikan gerakan literasi yang dibangun Asuddin adalah kemampuannya dalam menyelaraskan literasi modern dengan kearifan lokal. Ia tidak ingin literasi justru menjauhkan anak-anak Bayan dari akar budayanya. Sebaliknya, ia mendorong anak-anak untuk menuliskan kembali cerita-cerita rakyat yang mereka dengar dari kakek-nenek mereka.
Melalui pendekatan ini, Asuddin berhasil membuktikan bahwa menjadi literat tidak berarti menjadi "kebarat-baratan". Literasi adalah alat untuk mendokumentasikan tradisi, memahami sejarah desa, dan memperkuat identitas diri sebagai masyarakat Bayan.
Asuddin juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat adat. Walaupun tidak lahir dan besar di Bayan, dia merasa menjadi bagian masyarakat adat Bayan. Keterlibatanya dalam berbagai kegiatan di masyarakat juga menjadi modal kepercayaan orang tua ketika dia sering mengajak anak-anak mereka berkegiatan.
Ujian terberat bagi gerakan literasi Asuddin terjadi pada tahun 2018, saat gempa bumi hebat meluluhlantakkan Lombok Utara. Rumah-rumah roboh, dan trauma menyelimuti warga. Di tengah reruntuhan, Asuddin tidak membiarkan semangat literasi ikut terkubur.
Ia menggunakan buku sebagai instrumen trauma healing. Di tenda-tenda pengungsian, ia membacakan cerita untuk anak-anak, mengalihkan perhatian mereka dari ketakutan akan gempa susulan menuju dunia imajinasi yang penuh harapan. Baginya, buku adalah obat mujarab bagi jiwa yang terluka. Gerakan ini menarik perhatian banyak relawan dan donatur yang kemudian membantu memulihkan kembali koleksi buku yang sempat rusak atau hilang akibat bencana.
Membangun Jejaring dan Kolaborasi
Seiring berjalannya waktu, dedikasi Asuddin mulai terdengar hingga ke luar Lombok. Ia aktif berkomunikasi dengan berbagai komunitas literasi nasional, seperti Pustaka Bergerak Indonesia. Kolaborasi ini memungkinkan aliran bantuan buku dari berbagai penjuru tanah air mengalir ke Bayan.
Namun, Asuddin tetaplah sosok yang rendah hati. Ia selalu menekankan bahwa ia hanyalah seorang "pelayan" bagi ilmu pengetahuan. Ia melatih pemuda-pemudi desa lainnya untuk menjadi relawan literasi, memastikan bahwa gerakan ini tidak bergantung pada satu sosok saja, melainkan menjadi milik kolektif masyarakat Bayan.
Kini, di era digital, tantangan Asuddin bertambah. Masuknya arus internet ke pelosok desa membawa tantangan baru bernama literasi digital. Asuddin melihat bahwa smartphone mulai mengalihkan perhatian anak-anak dari buku fisik ke konten instan di media sosial.
Alih-alih memusuhi teknologi, Asuddin mencoba mengintegrasikannya. Ia mulai mengedukasi anak-anak tentang cara menggunakan internet untuk mencari informasi yang bermanfaat, sekaligus tetap menjaga kedekatan dengan buku fisik sebagai sumber pengetahuan yang mendalam. Ia ingin anak-anak Bayan menjadi subjek di dunia digital, bukan sekadar objek konsumsi konten.
Asuddin adalah bukti nyata bahwa keterbatasan geografis dan ekonomi bukanlah penghalang untuk membawa perubahan. Dari sebuah desa di kaki Rinjani, ia telah menyalakan lilin-lilin kecil di dalam pikiran anak-anak Bayan. Ia mengajarkan bahwa dengan membaca, seorang anak desa bisa "berkeliling dunia" bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di luar pulau.
Jejak langkah Asuddin menggerakkan literasi adalah sebuah pengingat bagi kita semua: bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang membebaskan, dan literasi adalah kunci pertama untuk membuka pintu kebebasan tersebut.