Masyarakat adat di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui praktik kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Upaya ini tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga menjadi bentuk nyata mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang kian terasa.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan survei lapangan bertajuk “Jelajah Bayan: Belajar Kearifan Lokal Masyarakat Adat untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim” yang dilaksanakan pada Kamis (26/3). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkenalkan praktik-praktik pengelolaan sumber daya alam berbasis adat kepada generasi muda.
Dalam kegiatan tersebut, tim survei dari Geopark Rinjani, Karang Taruna Desa Bayan, Perpustakaan Keliling Bayan melakukan pengamatan langsung ke sejumlah kawasan hutan adat yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat Bayan. Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah Hutan Adat Bangket Bayan. Kawasan ini dikenal sebagai sumber mata air utama yang menopang kebutuhan air bersih bagi masyarakat di seluruh wilayah Kecamatan Bayan.
“Hutan Adat Bangket Bayan berfungsi sebagai paru-paru bumi sekaligus sumber mata air utama bagi masyarakat di seluruh Kecamatan Bayan,” kata Ketua Karang Taruna Desa Bayan, Denda Wensi.
Keberadaan hutan ini tidak terlepas dari sistem pengelolaan berbasis adat yang ketat. Kawasan Hutan Adat Bangket Bayan berada di bawah pengawasan tokoh adat yang dikenal sebagai Perumbaq Daya. Mereka memiliki peran penting dalam memastikan seluruh aturan adat dijalankan dengan konsisten oleh masyarakat.
Di kawasan ini, masyarakat masih mempertahankan sistem pertanian tradisional yang selaras dengan alam. Pola tanam, pemanfaatan lahan, hingga pengelolaan air dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. Praktik ini terbukti mampu menjaga produktivitas lahan tanpa merusak lingkungan.
Selain Hutan Adat Bangket Bayan, tim survei juga mengunjungi Hutan Adat Mandala. Kawasan ini memiliki fungsi serupa sebagai sumber air bagi kebutuhan rumah tangga maupun irigasi pertanian. Bagi masyarakat Bayan, kedua hutan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya mereka.
Pengelolaan Hutan Adat Mandala juga diatur melalui norma adat yang ketat. Masyarakat dilarang melakukan aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem, seperti menggembalakan ternak di dalam kawasan hutan. Larangan ini bertujuan menjaga vegetasi alami serta mencegah degradasi tanah.
Selain itu, terdapat aturan tegas terkait penebangan pohon. Masyarakat tidak diperkenankan menebang pohon sembarangan. Penebangan hanya diperbolehkan dalam kondisi tertentu, seperti untuk kebutuhan kegiatan adat, dan harus melalui prosedur yang telah ditetapkan. Bahkan, jumlah kayu yang diambil pun dibatasi sesuai kebutuhan.
Ketegasan dalam menerapkan aturan adat ini terbukti efektif menjaga kelestarian hutan hingga saat ini. Tutupan vegetasi yang tetap terjaga berkontribusi besar dalam menjaga keseimbangan iklim lokal, mencegah erosi, serta mempertahankan ketersediaan air sepanjang tahun.
Kearifan lokal masyarakat adat Bayan ini dinilai relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global. Di tengah meningkatnya ancaman deforestasi dan krisis air, praktik pengelolaan berbasis adat justru menawarkan solusi yang berkelanjutan.
Kegiatan survei ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan untuk pelaksanaan program utama “Jelajah Bayan” yang akan melibatkan pelajar, pemuda, dan mahasiswa dari berbagai wilayah. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran langsung di lapangan, di mana peserta dapat memahami hubungan antara manusia dan alam secara lebih mendalam.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta nantinya akan melakukan pendakian (hiking) menuju lokasi-lokasi hutan adat yang telah disurvei. Selama perjalanan, peserta diwajibkan melakukan observasi terhadap kondisi lingkungan, mencatat temuan, serta mendokumentasikan praktik kearifan lokal yang mereka temui.
Hasil observasi tersebut kemudian akan dibahas dalam diskusi kelompok sebagai bagian dari proses refleksi. Melalui pendekatan ini, diharapkan peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kritis tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Kegiatan Jelajah Bayan diselenggarakan kolaborasi antara Wahid Foundation, Temasek Foundation, Geopark Rinjani. Selain itu komunitas-komunitas juga terlibat seperti Sekolah Adat Bayan, Yo’ra Hero, Literasi Rinjani, UAC Creative Studio, Perpustkaan Keliling Bayan. Penyelenggara kegiatan menilai bahwa keterlibatan generasi muda menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan praktik kearifan lokal di masa depan. Di tengah arus modernisasi, nilai-nilai tradisional kerap terpinggirkan, padahal memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Melalui program “Jelajah Bayan”, generasi muda diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menjembatani pengetahuan tradisional dengan pendekatan ilmiah modern. Sinergi antara keduanya dinilai penting dalam merumuskan solusi yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat posisi masyarakat adat sebagai garda terdepan dalam perlindungan lingkungan. Pengakuan terhadap peran mereka menjadi penting, terutama dalam konteks kebijakan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Pengalaman masyarakat adat Bayan menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu membutuhkan teknologi tinggi. Dengan berpegang pada nilai-nilai lokal dan aturan adat yang kuat, mereka mampu menjaga keseimbangan alam secara konsisten.
Di sisi lain, tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks menuntut adanya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil diharapkan dapat bersinergi dalam mendukung praktik-praktik baik yang telah dilakukan oleh masyarakat adat.