Ketika "Cantik" Lebih Penting dari "Nyaman"

Ketika "Cantik" Lebih Penting dari "Nyaman"

Hampir setiap hari, gema dari pengeras suara masjid menyapa telinga warga desa. Seruan itu mulia, mengingatkan kita akan singkatnya usia dan pentingnya bekal akhirat melalui sedekah pembangunan masjid. Kalimat-kalimat persuasif disusun sedemikian rupa untuk mengetuk pintu hati jamaah.


Namun, di balik seruan suci tersebut, muncul sebuah fenomena sosial yang menggelitik hati. Menyumbang untuk masjid, yang sejatinya adalah ladang amal berbasis keikhlasan, perlahan bergeser menjadi "keharusan" tak tertulis. Ada beban sosial yang ditanggung masyarakat. Pertanyaan mendasar pun menyeruak: jika sedekah berubah wujud menjadi kewajiban yang membebani, di manakah letak keikhlasannya? Semoga saja, keikhlasan itu tetap terjaga di sudut hati yang paling dalam.


Dilema ini kian terasa ketika kita menengok realitas ekonomi warga. Tidak semua masyarakat memiliki kelapangan rezeki. Bagi sebagian orang, menyisihkan dana sumbangan menjadi beban tambahan yang menyesakkan dada—terutama ketika token listrik di rumah sudah berbunyi nyaring atau kebutuhan sekolah anak sedang mendesak.


Di tengah himpitan itu, masyarakat yang telah menyisihkan sedikit hartanya tentu berhak bertanya: Untuk apakah dana umat itu dialokasikan?


Belum lama ini, sebuah pengumuman perbaikan masjid disampaikan. Harapan warga membumbung tinggi. Mungkin area parkir akan diperluas agar kendaraan tak lagi memakan badan jalan. Mungkin instalasi air akan diperbaiki agar wudhu tak lagi antre karena debit air yang kecil. Atau mungkin, ubin yang dingin akan dilapisi karpet yang empuk.


Namun, realitas seringkali tak sejalan dengan ekspektasi. Prioritas perbaikan ternyata jatuh pada: pengecatan ulang.


Bukan perbaikan krusial, melainkan kosmetik. Keputusan ini menggelitik nalar. Mungkin, para tetua dan pengambil kebijakan beranggapan bahwa kekhusyukan ibadah berbanding lurus dengan estetika visual dinding masjid. Seolah-olah, masjid yang "glowing" dan cantik dipandang lebih utama dibandingkan kenyamanan fungsional.


Logika terbalik seakan dimaklumi: Toh, jamaah sudah punya air di rumah masing-masing. Sajadah bisa bawa sendiri. Parkir? Ah, biarkan saja berjejer di jalan raya, asalkan masjid kita terlihat megah.


Sebagai warga biasa dengan pemahaman agama yang mungkin tak sedalam para pemuka, nalar kecil saya sulit menerima ini. Mengapa dana umat dialokasikan untuk menimpa cat yang bahkan belum luntur? Apakah ada urgensi yang luput dari pandangan awam saya?


Tulisan ini bukan ajakan untuk berhenti bersedekah, melainkan sebuah harapan agar para pengelola amanah umat dapat lebih bijak menentukan skala prioritas. Bahwa kemakmuran masjid tidak diukur dari seberapa baru cat dindingnya, melainkan dari seberapa nyaman jamaahnya bersujud di dalamnya tanpa risau soal air yang macet atau kendaraan yang tak aman.


Semoga kelak, kenyamanan jamaah menjadi prioritas di atas sekadar keindahan yang fana.