Menelusuri Jejak Pangan Lokal di Lombok Utara

Menelusuri Jejak Pangan Lokal di Lombok Utara

Di lereng perbukitan yang kering di Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, sebuah gerakan konservasi tengah berlangsung. Para pemuda dari berbagai organisasi bersama komunitas masyarakat adat sedang berupaya memetakan kembali kekayaan pangan lokal yang kian tergerus zaman. Identifikasi ini bukan sekadar pendataan biologis, melainkan upaya menyelamatkan kedaulatan pangan di tengah ancaman krisis iklim.


Kabupaten Lombok Utara (KLU), yang dikenal dengan bentang alamnya yang kontras antara pesisir dan perbukitan ternyata menyimpan harta karun plasma nutfah yang luar biasa. Berdasarkan hasil identifikasi yang dilakukan oleh kolaborasi pemuda adat dan pemuda berbagi organisasi ditemukan puluhan jenis tanaman pangan fungsional yang selama ini luput dari kebijakan pangan nasional yang masih bertumpu pada beras.


"Ternyata apa yang ada di kebun sekitar kita, banyak yang tidak kita tahu namanya. Jadi kegiatan ini sekaligus mengenalkan nama-nama itu pada peserta," kata ketua panitia kegiatan Jejak Pangan Lokal Lombok Utara, Nelda Hannia.


Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (14/1) dan akan berlangsung sampai beberapa bulan ke depan. Nelda menjelaskan, kegiatan pertama ini tahap awal identifikasi sekaligus sosialisasi ke pelajar dan pemuda. Kegiatan identifikasi ini akan dilanjutkan dengan pelatihan pengolahan pangan lokal, penulisan buku ensiklopedia pangan lokal dan proses dokumentasi.


Salah satu temuan menarik dalam identifikasi ini adalah keberagaman jenis serealia dan umbi-umbian yang masih dibudidayakan secara terbatas oleh masyarakat. Tanaman tersebut ditanam di tanah "Pecatu" yang dikelola oleh para tokoh adat. Tanaman tersebut nantinya digunakan dalam berbagai kegiatan adat. Salah satunya jenis padi yang dikenal dengan padi bulu.


"Ketika ada maulid adat misalnya, yang dibawa oleh masyarakat adat itu adalah padi bulu. Jadi penanaman padi lokal padi bulu ini tidak lepas dari mempertahankan tradisi," kata staf Geopark Rinjani ini.


Menurut Nelda, tanaman-tanaman ini memiliki daya tahan luar biasa terhadap kekeringan. Di wilayah Lombok Utara yang memiliki curah hujan rendah, tanaman lokal ini merupakan jawaban alami terhadap perubahan iklim yang membuat pola hujan menjadi tidak menentu.

"Sorgum yang dalam bahasa Bayan disebut beleleng bisa bertahan di tanah yang kering ini," kata Nelda.


Sinkronisasi dengan Kearifan Lokal


Di Lombok Utara, pangan lokal tidak bisa dipisahkan dari sistem adat. Ritual atau perayaan panen menunjukkan betapa masyarakat menghargai benih warisan leluhur. Ketika proses menanam hingga panen selalu dilakukan ritual khusus. Ini menunjukkan penghormatan masyarakat adat terhadap alam.


Namun, tantangan besar menghadang. Modernisasi pertanian dan dominasi bibit hibrida dari pemerintah perlahan menggusur benih lokal. Identifikasi ini menemukan bahwa banyak generasi muda yang tidak lagi mengenali jenis umbi-umbian tertentu yang dulu menjadi pangan penyelamat saat musim paceklik (musim lapar).


"Identifikasi ini penting untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional sebelum hilang bersama wafatnya para tetua adat," kata Raden Dedi dari Sekolah Adat Bayan yang ikut memandu kegiatan ini.


Dokumentasi ini mencakup cara tanam, masa panen, hingga cara pengolahan pascapanen. Selain itu juga dokumentasi pemanfaatannya dalam berbagai kegiatan.


"Kami senang dengan kegiatan adik-adik pelajar dan pemuda yang mau belajar pangan lokal," katanya.

Manajer Konservasi Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim Geopark Rinjani, Fathul Rakhman mengatakan, Lombok Utara adalah salah satu wilayah yang paling terdampak ketika El Nino melanda. Tanaman padi sawah seringkali gagal panen karena ketergantungan pada irigasi yang mengering. Sebaliknya, lahan kering yang ditanami sorgum (beleleng) atau jagung lokal tetap memberikan hasil.


Data dari hasil identifikasi menunjukkan bahwa tanaman seperti sorgum sempat menjadi primadona di lahan kering Lombok Utara. Kini, tanaman tersebut mulai diperkenalkan kembali sebagai bagian dari diversifikasi pangan.


" Sekarang kegiatan penanaman sorgum ini diinisiasi juga oleh sekolah di Bayan. Ada kesadaran untuk mengembalikan kembali pangan lokal di ladang dan meja makan," katanya.


Hasil dari identifikasi ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dalam menyusun kebijakan ketahanan pangan. Tidak hanya sekadar data, komunitas lokal juga mulai membangun "Bank Benih Komunitas".


"Kami tidak ingin benih-benih ini hanya berakhir di laboratorium atau museum. Mereka harus tetap ada di ladang petani," katanya.


Upaya identifikasi ini juga menyoroti pentingnya perlindungan lahan-lahan hutan adat. Banyak tanaman pangan fungsional, seperti rempah-rempah hutan dan tanaman obat, tumbuh secara liar di bawah tegakan pohon besar. Kerusakan hutan berarti hilangnya sumber pangan bergizi tinggi bagi warga.


"Peserta juga diajak melihat hutan adat. Terjaga kelestariannya dan banyak potensi di dalamnya yang perlu diidentifikasi juga," katanya.


Dalam pembukaan kegiatan ini, dilakukan penanaman pohon sukun. Sukun merupakan salah satu sumber karbohidrat selain beras. Dulu tanaman ini mudah dijumpai tapi kemudian banyak ditebang.


"Karena tema kegiatan pangan lokal, dan kebetulan musim hujan kami adakan penghijauan dengan tanaman sukun," katanya.

Fathul mengatakan, kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi berbagai komunitas seperti Santiri yang secara khusus melakukan pendampingan di Bayan. Termasuk membuat demplot untuk tanaman lokal. Kegiatan diikuti komunitas literasi,pegiat budaya, Sekolah Adat Bayan (SAB), SMKN 1 Bayan, SMK Al Bayan. Selain itu terlibat juga para perwakilan pemuda dari berbagai organisasi di Lombok Utara.

"Kami akan terus melakukan kegiatan ini dan melibatkan lebih banyak komunitas. Ini sebagai bagian edukasi pangan lokal dengan melihat langsung di lapangan," katanya. (*)

Baca Juga