MENGOLAH SORGUM MENJADI COOKIES NAN LEZAT

MENGOLAH SORGUM MENJADI COOKIES NAN LEZAT

Di bawah kaki Gunung Rinjani, tepatnya di Kecamatan Bayan, Lombok Utara, udara pagi biasanya membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari dapur-dapur warga. Namun, ada yang berbeda di ruang praktik SMKN 1 Bayan pada Selasa (20/1). Wangi mentega yang gurih bercampur dengan aroma "kacang" yang unik menyeruak ke selasar sekolah.

Di dalam ruangan praktek, belasan siswa tampak sibuk. Tangan mereka cekatan menimbang tepung berwarna krem kecokelatan yang teksturnya sedikit lebih kasar dibanding terigu. Itu bukan gandum impor, melainkan sorgum—pangan masa lalu masyarakat Bayan yang kini sedang dijemput kembali masa depannya.

"Selama ini pangan lokal harganya murah karena belum diolah. Setelah diolah diharapkan bisa menaikkan harganya," kata wakil kepala sekolah SMKN 1 Bayan.

Bayan dikenal sebagai wilayah yang kaya akan adat istiadat, namun secara geografis, ia adalah lahan yang menantang. Di sinilah sorgum, atau yang warga lokal sebut sebagai beleleng, tumbuh dengan perkasa tanpa perlu banyak air. Sayangnya, selama berdekade-dekade, sorgum hanya dianggap sekadar hidangan pengganti nasi yang membosankan.

Pelatihan pengolahan sorgum menjadi kue ini hadir untuk mematahkan stigma tersebut. Melibatkan para siswa jurusan tata boga, kegiatan ini bertujuan mengubah butiran keras sorgum menjadi kudapan modern seperti cookies hingga brownies. Owner Yant Sorgum, Ibu Nur Rahmi Yanti.

"Kami ingin anak-anak muda di Bayan tidak malu mengonsumsi pangan lokalnya sendiri. Caranya? Dengan memberikan sentuhan menjadi makanan kekinian seperti cookies," katanya.

Mengolah sorgum bukan tanpa kendala. Berbeda dengan terigu yang mengandung gluten, sorgum bersifat gluten-free. Artinya, ia tidak memiliki daya rekat yang kuat. Jika salah teknik, kue akan menjadi sangat rapuh atau justru keras seperti batu. Para siswa SMKN 1 Bayan diajak bereksperimen. Mereka mencampur tepung sorgum dengan bahan pengikat alami dan mengatur suhu oven dengan presisi. 

"Banyak potensi di Bayan, ini bisa diolah menjadi bahan makanan dan minuman yang bernilai," kata GM Geopark Rinjani Qwadru Putro Wicaksono.

Keunikan sorgum memang terletak pada profil rasanya yang unik. Ketika dipanggang, ia mengeluarkan aroma karamel alami yang sangat cocok dipadukan dengan cokelat atau kenari—produk lokal lain yang juga melimpah di Lombok Utara.

Bagi masyarakat Bayan, sorgum adalah bagian dari identitas. Dalam tatanan adat, sorgum seringkali hadir dalam ritual-ritual tertentu. Namun, regenerasi petani sorgum sempat terancam karena nilai ekonominya dianggap rendah.

Melalui tangan-tangan kreatif pelajar SMK ini, ada harapan baru yang tumbuh. Jika sorgum bisa diolah menjadi kue bernilai jual tinggi, maka permintaan terhadap komoditas ini akan meningkat. Ini adalah rantai ekonomi melingkar: petani lokal punya pasar, dan anak muda punya peluang usaha berbasis potensi daerah.

"Jadi orientasi adik-adik SMKN 1 Bayan kedepannya bukan hanya jadi pegawai, tapi bisa wirausaha dengan mengolah panjang lokal," kata Qwadru.

Pelatihan ini tidak hanya berhenti di meja makan. Para siswa juga dibekali pemahaman tentang pengemasan (packaging) dan pemasaran digital. Harapannya, produk cookies sorgum Bayan yang diberikan branding ā€œBelelengā€ ini nantinya bisa mengisi rak-rak pusat oleh-oleh di Lombok, bersaing dengan produk pabrikan.

Apa yang terjadi di SMKN 1 Bayan adalah sebuah langkah kecil menuju narasi besar bernama kedaulatan pangan. Di tengah ketergantungan global pada gandum, sorgum menawarkan kemandirian. Ia tahan kekeringan, minim pupuk kimia, dan sangat sehat karena tinggi serat serta antioksidan. (*)