Kira-kira begitu kesimpulan sebuah berita media lokal beberapa bulan lalu. Pernyataan itu diucapkan oleh pejabat pemerintah provinsi NTB yang baru saja dilantik menempati dinas yang mengurus buku dan arsip.
Saya berharap setelah pernyataan heboh itu ada gebrakan "gemilang" untuk mengatasi persoalan literasi rendah itu. Ada inovasi baru agar orang-orang malas membaca tiba-tiba gemar membaca. Ada gerakan yang membuat kampung-kampung ramai aktivitas membaca. Dimana-mana kita temukan orang membaca. Ada pelatihan kader, pemuda/pemudi penggerak literasi. Ada upaya menggandeng komunitas literasi .
Tapi hingga Hari Buku Nasional tak ada berita lagi terdengar. Saya coba browsing berita seputar literasi. Zonkkkkk. Saya berbaik sangka saja, mungkin dinas itu bekerja dalam diam. Tak mau dipublikasi. Tak mau diketahui kegiatan mereka. Tak mau dikira sombong telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan literasi masyarakat NTB.
***
Tahun 2007 saya dan seorang sahabat Salman Hafiz membuat "rumah baca" di Tetebatu. Rumah baca itu sekaligus jadi sekretariat latihan teater, fotografi, latihan menulis, markas pecinta alam, dan seabrek kegiatan lainnya. Dua tahun kami berkegiatan hingga kemudian break : saya pindah ke Lombok Utara dan kawan ini juga sibuk dengan kegiatannya.
Tak mati sama sekali. Adik-adik aliyah, SMA, SMP yang menjadi kader kami kuliah naik ke SMA. Merekalah yang melanjutkan kegiatan. Mereka beri nama komunitasnya "Republik Ekskul". Mereka mengandeng beberapa sekolah termasuk Ponpes Ulil Albab. Rekor mereka pernah menggelar pentas musik Gendang Beleq dan mengundang Kang Ary Julian dan beberapa musisi. Radja Tahu Muhammad Safwan juga pernah mengisi kegiatan untuk pelatihan menulis.
Kader awal ini sekarang ada yang menjadi staf desa, menjadi sekretaris desa, menjadi guru. Kegiatan anak muda di desa sangat mereka dukung. Ini sudah generasi keempat komunitas kami.
Saya dan Salman dalam beberapa hal berkomitmen memberikan ruang yang besar bagi mereka. Kami tak mau terlalu dominan. Era kami sudah berganti. Saya ingat dulu kami sangat saklek : jika mau ikut wajib baca buku yang kami berikan. Dulu buku yang kami wajibkan baca : Toto Chan, Sekolah Itu Candu, Laskar Pelangi. Itu wajib. Selebihnya kami berikan kebebasan.
****
Saat ini komunitas itu sudah berkembang menjadi beberapa "divisi". Yang lebih suka traveling difasilitasi wadahnya. Yang lebih pede main musik juga difasilitasi. Yang lebih suka kegiatan literasi yang serius juga ada wadahnya.
Kadang saya merasa kegiatan literasi saat ini terlalu banyak entertainment. Kurang refleksi. Kurang serius membaca. Dan jarang mendiskusikan apa yang dibaca.
Zaman memang berubah. Kami generasi kelahiran 1980-an tentu beda dengan adik-adik ini. Seperti hari ini memperingati hari buku nasional mereka menggelar : lapak baca, akustikan, bagi takjil. Dan saya diminta jadi tukang foto saja. Hahahahahahahahaha.
*****
Kegiatan lapak buku "jelajah literasi" ini sudah berjalan tiga bulan. Selama Ramadan ini intens mereka blusukan ke beberapa kampung untuk gelar lapak buku. Hari ini di kampung "Bangket Daya". Sangat surprise karena emak-emak yang lagi nyiapin berbuka untuk keluarga datang nonton. Anak-anak muda kampung ini rebutan jadi relawan. Sangat ramai. Sangat meriah. Saya rasa di kampung ini sangat jarang kegiatan dan jarang hiburan. Seorang emak-emak memaksa saya untuk berbuka di rumahnya tapi saya tidak bisa karena harus berbuka di rumah (maklum jarang pulang hehehehehe).
***
2007-2009 ketika saya dan Salman sering membuka lapak buku banyak buku kami yang tak kembali. Khususnya buku bacaan remaja dan anak-anak. Saya masih ingat catatannya : 327 buku. Itu belum termasuk buku-buku dan majalah lainnya. Buku koleksi pribadi saya saat ini lebih dari cukup. Tap kurang cocok untuk dibawa untuk "jelajah literasi. Buku saya tidak cocok untuk remaja dan anak-anak. Beberapa buku bacaan saat ini kami dapatkan dari beberapa donatur. Ada kawan Lalu Abdul Fatah . Ada sahabat Ekaning Benawi dan ada para sahabat dari Malaysia yang membantu.
Bukan depan ada ratusan buku sumbangan buku dari kawan Malaysia itu (buku berbasa Inggris) dan pekan depan ada buku dari Surabaya.
****
Bagi para sahabat yang ingin membantu kegiatan literasi kami silahkan bergabung.Jika ada buku di Lombok kami siap menjemput. Jika diluar Lombok kami bisa mengganti ongkos kirim. Kegiatan kami ini sangat kecil kontribusinya untuk mendongkrak angka literasi di NTB. Kami berterimakasih kepada pejabat yang sudah berstatement bahwa tingkat literasi di NTB itu sangat rendah. Setidaknya kami punya alasan untuk melakukan langkah kecil ini.
"Maaf kami tidak sempat bikin spanduk selamat hari buku nasional "
17Mei2019