Paradoks Pecinta Alam: Sebuah Catatan Kelam Tentang Sampah di Rinjani

Paradoks Pecinta Alam: Sebuah Catatan Kelam Tentang Sampah di Rinjani

Ada sebuah ironi yang menyakitkan mata setiap kali musim pendakian mencapai puncaknya. Di antara megahnya sabana Sembalun dan magisnya Danau Segara Anak, terselip noda-noda warna-warni yang tak seharusnya ada di sana: plastik pembungkus mi instan, botol air mineral, hingga tisu basah yang mengering di sela bebatuan.

Kita semua datang ke Rinjani dengan alasan yang sama: mencari keindahan. Kita rela membayar tiket masuk, menyewa jasa guide, dan menempuh perjalanan ribuan kilometer. Namun, mengapa kita begitu tega mengotori "rumah" yang memberikan kita kedamaian tersebut?


Jejak yang Tak Hilang

Data dari [Link External ke Website Taman Nasional Gunung Rinjani] seringkali menunjukkan angka tonase sampah yang fantastis setiap kali aksi bersih gunung dilakukan. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah cerminan mentalitas.

Sampah di gunung bukan hanya masalah estetika. Residu makanan mengundang satwa liar seperti monyet dan babi hutan untuk mengubah perilaku alami mereka menjadi peminta-minta, atau bahkan agresif. Mikroplastik yang terurai perlahan mencemari sumber mata air yang mengalir hingga ke desa-desa di kaki gunung, tempat kita menikmati [Link ke Artikel Kuliner: Kuliner Khas Sembalun] yang lezat itu.


"Zero Waste" Bukan Sekadar Tren

Istilah Zero Waste Adventure sering didengungkan, namun pelaksanaannya seringkali berhenti di tagar media sosial. Membawa turun sampah sendiri (pack it in, pack it out) adalah kewajiban moral, bukan prestasi yang perlu dipuji.

Solusinya tidak selalu rumit. Mulailah dari hal kecil:


  1. Repacking: Buka semua bungkus makanan instan di rumah dan pindahkan ke wadah guna ulang (reusable container) sebelum mendaki.
  2. Botol Minum: Hindari membeli air kemasan sekali pakai di pos-pos bayangan. Bawalah jerigen lipat atau water bladder.
  3. Pungut Punya Orang: Jika melihat sampah orang lain, anggaplah itu sedekah energi kita untuk alam.

Gunung Rinjani, dengan segala legendanya tentang Dewi Anjani, mengajarkan kita untuk menunduk—bukan hanya karena jalan yang menanjak, tapi sebagai tanda hormat. Meninggalkan sampah adalah bentuk kesombongan manusia yang merasa bisa menaklukkan segalanya.

Mari bertanya pada diri sendiri sebelum melangkah turun: Apakah Rinjani lebih baik karena kedatangan kita, atau justru lebih menderita? Jadilah pendaki yang dirindukan oleh gunung, bukan yang dikutuk olehnya.

Baca Juga